Entri Populer

Senin, 06 Desember 2010

Mengubah Pola Hidup Bangsa

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya, Indonesia sejak dulu kala, selalu di puja-puja bangsa, di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung dihari tua, sampai akhir menutup mata.
Lagu tanah air beta adalah salah satu ungkapan rasa hormat diantara beberapa anak Nusantara yang betul-betul menghormat, mengagumi, mensyukuri atas anugrah sebuah bangsa dan negara dari Tuhannya. Sudahkah kita mengikuti jejak-jejak putra Nusantara yang demikian? kalau mengaku sudah! apa buktinya? Sebab segala sesuatu itu perlu pembuktian, sedangkan dalam pembuktian itu perlu proses yang disertai pengorbanan. Sudahkah kamu-kamu pernah berkorban demi bangsa dan negaramu? Apabila belum, sungguh amatlah terasa lucu, keliru dan bahkan dosa besar pasti selalu menyertaimu. Sesungguhnya setiap manusia itu terlahir pasti di suatu bangsa dan negara. Untuk itu sebenarnya tidak boleh main-main atau setengah-setengah dalam berani berkorban demi bangsanya. Berkorban adalah diantara isi kata jihad di jalan Tuhan. Berkorban apa? Dalam era seperti sekarang tentunya kita harus menyesuaikan pengorbanannya. Bukanlah zamannya lagi untuk mengorbankan jiwa-raga, namun cukuplah berkorban pikiran, tenaga dan harta demi berbuat ke arah pemulihan moral bangsa, yang pada gilirannya akan bisa menuntaskan kemelut bangsa.
Terkait dengan topik mengubah pola hidup bangsa, membiasakan berkorban dan bahkan mengajak atau mewajibkan demi Indonesia, adalah pola yang jitu untuk memulihkan stabilitas ekonomi, budaya bangsa dan kesenjangan-kesenjangan yang ada. Marilah kita berkorban demi bangsa dan negara agar ditiru oleh anak cucu dan lestari Indonesiaku.
Kebiasaan berkorban yang dalam setahun hanya kambing dan atau sapi itu adalah sangat belum sebanding nilainya bila dibanding dengan kebaikan bumi bangsa yang telah kita duduki bersama. Walau demikian, ini pun adalah salah satu pengetahuan yang lebih baik daripada tidak berkorban sama sekali.
Bangsa Indonesia sejak dulu kala memang bangsa yang kaya raya segala sesuatunya. Buminya yang subur, bermacam-macam hasil tambang yang termashur dan berbagai budayanya yang luhur adalah ciri kekayaan Indonesia. Candi borobudur dan prambanan serta ratusan candi lainnya adalah bukti tingginya ekonomi Indonesia dimasa lampau  dalam bisa membangunnya, namun sesungguhnya gaya pola hidup sederhana adalah prinsip dasar hidup para kesatria Nusantara beserta seluruh komponen bangsanya.
  Biarpun Indonesia dulu bisa membangun borobudur, namun rakyat dan bahkan kerajaannya pun tetap sederhana. Bukti pola hidup sederhana bangsa Indonesia pada masa lampau jelas dapat kita lihat sampai sekarang. Banyaknya keraton di Indonesia semua itu dibangun secara sederhana dan alamiah. hanya nilai-nilai seninya memang luar biasa. Tidak ada peninggalan keraton di Indonesia yang dibangun bertingkat-tingkat dan berkaca-kaca (rumah kaca). Padahal sebuah keraton yang dipimpin oleh raja, jelas akan membangun semegah apapun pasti bisa.
Mengapa sekarang kita tidak berpola hidup sederhana? Intinya, dalam hendak memperbaiki Nusantara ini kita harus mengubah pola hidup secara drastis dari yang secara umum suka bermewah megah, kembali ke pola hidup sederhana. Bagaimana Nusantara akan baik bila kita tidak membaiki!
 Jujurlah di pelopak mata kita sering melihat di lubuk hati kita merasakan, bangsa Indonesia sekarang!, dari mulai bayi sampai tingkat usia sepuhnya, nyai dan kyai, dari tingkat pesinden sampai ketingkat presiden, dari yang miskin sampai kaya, dari yang baik sampai yang buruk, hampir semuanya dengan berbagai alasan sedang gandrung berkendaraan atau berjalan-jalan naik kendaraan berputar-putar seperti kinciran. Bagaimana tidak terjadi pamanasan global? Semua ini jelas kurangnya konsep atau pola kesederhanaan.
Dulu, sering aku mendengar para petinggi bangsaku berslogan berakit-rakit kehulu dengan cara berhemat atau berefektif dan efisien dalam menggunakan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Tapi kini entah kemana perginya slogan itu. Mungkin negeri ini sudah merasa terlampau bisa sehingga tidak perlu nasehat yang demikian, dan apalagi nasehat dari para kaum murninya sepiritual yang hanya selalu mengembara ketempat-tempat keramat para leluhur bangsa, dan berdiam di goa atau hutan-hutan. Lebih baik negara memelihara penasehat yang berdasi dan alumni perguruan tinggi luar negeri, yang cenderung tiap hari duduk dikursi minta dihormati dan menanti gaji.itupun masih untung bila tidak korupsi, yang demikian itu, sesungguhnya tidaklah makan kecuali mengerogoti hati seluruh putra NKRI. Bagaimana tidak! menjual pikiran dan tenaga kepada bangsanya adalah pantang bagi para kesatria dan pendeta sejati Nusantara, kecuali hanya murninya pengabdian kepada negara. Itulah sesungguhnya Abdi Negara.
Meningkatkan kesederhanaan adalah pola kedua setelah pengorbanan dalam niat memperbaiki Nusantara. Ada lebih baik mungkin negeri ini mencanangkan gerakan anti gengsi nasional dan gerakan anti bermewah mewahan dan gerakan pola hidup sederhana. Janganlah hanya beriklan berhemat listrik dan membayar pajak sudah dikategorikan patriot bangsa. Sungguh betapa gampangnya mendapat predikat patriot bangsa. Pola hidup sesungguhnya adalah penentu maju dan mundurnya suatu bangsa dan bahkan menentukan bubar atau berlangsungnya suatu bangsa.
Disisi lain tiga hal yang lebih utama untuk dirubah polanya dalam kehidupan bangsa Nusantara saat ini. Dimana-mana kebutuhan primer manusia adalah sandang, pangan dan papan. Selama lebih dari enam dasa warsa dalam merdeka, sesungguhnya Indonesia sudah patut menempatkan pola-pola primer itu. Namun karena kurangnya pola hayat yang dikandung badan, maka pola-pola primer itu tercecer tidak karuan. Bayangkan! dan Bayangkan! Bayi manusia yang baru lahir sudah disusui sapi, apakah tidak menutup kemungkinan  darah yang beredar itu mirip darah sapi? apakah nantinya tidak berakhlak sapi? Darah darah susu sapi dan sari mi sudah berjalan jalan di negeri ini. Aduhai sangat ngeri bila pola makan anak negeri tidak segera diperbaiki secara alami.
Bayangkan! dan Bayangkan! Makanan dan minuman yang sudah dikemas berbulan-bulan dan bahkan tahunan masih tetap dimakan. Mengapa Badan POM dan MUI tetap mengijinkan dan menghalalkan? Jujurkah? Belum lagi pola busana yang walau kekurangan kain masih dikenakan saja, baik di atas panggung maupun di jalan raya. Dengan demikian, Indonesia telah banyak tontonan paha dan garis tipis payudara dimana-mana.
Hampir hilangnya rasa gotong royong dan solidaritas adalah penyebab manusia Indonesia tanpa punya tempat di Indonesia. Merajalelanya Kapitalisme jelas lebih menistakannya. Semua kita mengetahuinya. Apabila kita tidak mau mengubah pola hidup secara bersama, tentulah kita akan termakan kerakusan nafsu dunia.
Semoga negeri ini segera mengubah pola hidup bangsa, sehingga tidaklah terjadi lagi putra-putri negeri hendak makan dan minum harus membeli kemasan-kemasan makanan dan minuman yang meracuni.
Sesungguhnya dalam fitrahnya, bumi tumbuh buah-buahan dan turunya air hujan yang terkandung di bumi, batu dan pepohonan adalah tidak untuk diperjual belikan. Tapi demi tercukupinya semua makhluk Tuhan. apakah kamu sudah berani melawan Tuhan? Mengapa manusia akan minum air putih saja harus bayar? Dimana nilai Ibadahmu? Ini sungguh pola hidup Indonesia yang perlu dirubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar